Tipografi dalam Desain Grafis: Pengertian, Fungsi, dan Cara Memilih Font
Ketika melihat poster, logo, kemasan, website, atau konten media sosial, perhatian kita mungkin pertama kali tertuju pada warna dan gambar. Padahal ada elemen lain yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap bagaimana sebuah desain dipahami: tipografi dalam desain grafis.
Tipografi bukan sekadar memilih font yang terlihat menarik.
Pemilihan jenis huruf, ukuran, ketebalan, jarak, alignment, hingga hierarki teks dapat menentukan apakah sebuah informasi mudah dibaca atau justru membingungkan.
Bagi desainer pemula, memahami tipografi merupakan salah satu fondasi penting. Anda tidak harus menghafal ribuan nama font. Hal yang lebih penting adalah memahami bagaimana memilih dan mengatur huruf sesuai fungsi, pesan, media, dan karakter desain.
Mari membahasnya dari dasar.
Apa Itu Tipografi dalam Desain Grafis?
Tipografi adalah seni dan teknik memilih, mengatur, serta menata huruf agar teks dapat menyampaikan informasi secara jelas sekaligus mendukung karakter visual sebuah desain.
Tipografi mencakup lebih dari sekadar jenis font.
Di dalamnya terdapat berbagai keputusan seperti:
- typeface yang digunakan,
- ukuran huruf,
- ketebalan,
- jarak antarhuruf,
- jarak antarkata,
- jarak antarbaris,
- alignment,
- panjang baris,
- hierarchy.
Karena itu, dua desain yang menggunakan font sama belum tentu mempunyai kualitas tipografi yang sama.
Desainer pertama mungkin menggunakan ukuran dan spacing dengan baik sehingga nyaman dibaca.
Desainer kedua menggunakan font yang sama tetapi membuat semua teks terlalu rapat dan tidak mempunyai hierarki.
Hasilnya akan sangat berbeda.
Mengapa Tipografi Penting dalam Desain Grafis?
Sebagian besar desain mempunyai sesuatu untuk dikomunikasikan.
Poster mempunyai judul dan informasi acara.
Kemasan mempunyai nama produk.
Website mempunyai headline, menu, tombol, dan artikel.
Iklan mempunyai pesan promosi.
Bahkan logo sering menggunakan huruf sebagai bagian utama identitas.
Tipografi membantu informasi tersebut bekerja secara visual.
Tanpa pengaturan tipografi yang baik, pesan yang sebenarnya sederhana dapat menjadi sulit dipahami.
Sebaliknya, tipografi yang baik membantu audiens mengetahui:
apa yang perlu dilihat pertama,
apa informasi berikutnya,
dan
bagian mana yang paling penting.
Inilah alasan tipografi perlu dipelajari bersama warna, komposisi, balance, contrast, hierarchy, dan prinsip desain grafis lainnya.
Fungsi Tipografi dalam Desain Grafis
Tipografi mempunyai beberapa fungsi yang saling berkaitan.
1. Membantu Menyampaikan Informasi
Fungsi paling dasar adalah membuat teks dapat dibaca.
Jika audiens tidak dapat membaca informasi dengan nyaman, fungsi komunikasi desain menjadi terganggu.
Bayangkan poster acara menggunakan font dekoratif yang sangat rumit untuk seluruh isi.
Secara visual mungkin terlihat unik.
Tetapi ketika tanggal, alamat, harga tiket, dan informasi kontak sulit dibaca, desain tersebut kehilangan sebagian fungsinya.
2. Membangun Hierarki Visual
Tipografi membantu menunjukkan tingkat kepentingan.
Misalnya:
JUDUL UTAMA
Subjudul
Isi paragraf
Catatan tambahan
Perbedaan ukuran dan weight membuat audiens memahami urutan informasi tanpa perlu diberikan petunjuk.
Inilah yang disebut typographic hierarchy.
3. Membangun Karakter
Font mempunyai karakter visual.
Ada font yang terasa:
- formal,
- modern,
- elegan,
- playful,
- klasik,
- futuristik,
- sederhana,
- kuat.
Karakter tersebut dapat membantu memperkuat pesan desain.
4. Memperkuat Identitas Brand
Brand biasanya mempunyai aturan tipografi tertentu.
Misalnya satu typeface digunakan untuk headline dan typeface lain untuk body text.
Ketika digunakan secara konsisten pada website, media sosial, presentasi, dan materi promosi, tipografi ikut membangun identitas visual.
5. Mengarahkan Perhatian
Perbedaan ukuran, ketebalan, warna desain, dan posisi dapat mengarahkan mata.
Dalam poster promosi, misalnya:
DISKON 50%
dapat dibuat lebih dominan dibanding informasi syarat dan ketentuan.
Audiens langsung mengetahui pesan utamanya.
Font dan Typeface, Apakah Sama?
Istilah font dan typeface sering digunakan secara bergantian.
Dalam percakapan sehari-hari, hal tersebut biasanya tidak menjadi masalah.
Namun secara konsep ada perbedaan.
Typeface mengacu pada keluarga atau desain huruf.
Sementara font mengacu pada variasi tertentu dalam keluarga tersebut, misalnya weight atau style.
Sebagai ilustrasi sederhana:
Sebuah keluarga huruf dapat mempunyai:
- Regular,
- Medium,
- Semibold,
- Bold,
- Italic.
Semua variasi tersebut masih berada dalam satu keluarga desain huruf.
Bagi pemula, Anda tidak harus terlalu terjebak dalam terminologi. Yang lebih penting adalah memahami bahwa satu typeface dapat menyediakan beberapa variasi yang dapat digunakan untuk membangun hierarchy tanpa harus menambahkan banyak keluarga font.
Mengenal Anatomi Dasar Huruf
Memahami sedikit anatomi huruf dapat membantu Anda melihat perbedaan antar-typeface.
Beberapa istilah yang sering ditemukan antara lain:
Baseline
Garis imajiner tempat sebagian besar huruf berdiri.
X-Height
Tinggi badan utama huruf kecil, biasanya mengacu pada tinggi huruf “x”.
X-height dapat memengaruhi bagaimana besar atau mudah dibacanya sebuah font pada ukuran tertentu.
Ascender
Bagian huruf kecil yang naik melewati x-height.
Contohnya dapat ditemukan pada huruf seperti b, d, atau h.
Descender
Bagian huruf yang turun melewati baseline.
Contohnya pada g, p, q, atau y.
Serif
Garis atau detail kecil yang terdapat pada ujung stroke beberapa jenis huruf.
Memahami istilah ini tidak otomatis membuat seseorang menjadi desainer yang lebih baik, tetapi membantu ketika membandingkan karakter dan struktur typeface.
Jenis-Jenis Font yang Perlu Dikenal Pemula
Ada banyak klasifikasi typeface. Untuk tahap awal, beberapa kelompok berikut sudah cukup membantu.
1. Serif
Serif mempunyai detail atau stroke kecil pada bagian ujung huruf.
Jenis huruf ini sering digunakan pada:
- buku,
- editorial,
- publikasi,
- branding,
- desain dengan karakter klasik.
Serif dapat memberikan kesan tradisional, editorial, elegan, atau formal tergantung desain typeface yang digunakan.
Namun jangan menganggap semua serif selalu formal.
Setiap keluarga font mempunyai karakter berbeda.
2. Sans Serif
Sans serif tidak mempunyai serif pada ujung huruf.
Tampilannya sering terasa lebih sederhana dan bersih.
Sans serif banyak digunakan pada:
- website,
- aplikasi,
- interface,
- branding modern,
- presentasi,
- media sosial.
Banyak desainer pemula merasa sans serif lebih mudah digunakan karena bentuknya relatif sederhana.
Tetapi tetap perhatikan weight, spacing, dan ukuran.
Font sederhana tidak otomatis menghasilkan desain yang baik.
3. Script
Script terinspirasi dari tulisan tangan atau kaligrafi.
Font jenis ini dapat memberikan kesan:
- personal,
- elegan,
- artistik,
- romantis,
- informal.
Script dapat bekerja baik sebagai aksen atau headline.
Namun berhati-hatilah menggunakannya untuk paragraf panjang karena sebagian script mempunyai tingkat keterbacaan lebih rendah.
4. Display
Display font biasanya dirancang untuk penggunaan pada ukuran besar.
Karakter visualnya lebih kuat sehingga cocok untuk:
- headline,
- poster,
- judul,
- packaging,
- campaign visual.
Display font tidak selalu cocok digunakan untuk body text.
Semakin ekspresif bentuknya, semakin hati-hati penggunaannya.
5. Monospace
Pada font monospace, setiap karakter menggunakan lebar ruang yang sama.
Monospace sering diasosiasikan dengan:
- coding,
- mesin tik,
- teknologi,
- desain eksperimental.
Font jenis ini dapat menjadi pilihan ketika karakter tersebut sesuai dengan konsep desain.
Apa Itu Readability dan Legibility?
Dua istilah penting dalam tipografi adalah legibility dan readability.
Keduanya berhubungan dengan kemudahan membaca, tetapi fokusnya berbeda.
Legibility berkaitan dengan seberapa mudah karakter atau huruf dapat dikenali.
Misalnya apakah huruf I, l, dan angka 1 mudah dibedakan.
Sedangkan readability lebih berhubungan dengan kenyamanan membaca keseluruhan teks.
Readability dapat dipengaruhi oleh:
- ukuran font,
- line height,
- panjang baris,
- contrast,
- spacing,
- layout.
Sebuah font dapat mempunyai bentuk huruf yang jelas, tetapi jika paragraf dibuat sangat kecil dan rapat, hasil akhirnya tetap sulit dibaca.
Cara Memilih Font untuk Desain
Memilih font sering menjadi salah satu bagian yang membuat pemula bingung.
Ada ribuan pilihan.
Mana yang harus digunakan?
Daripada memilih berdasarkan “font ini keren”, gunakan beberapa pertimbangan berikut.
1. Tentukan Tujuan Desain
Pertama, pahami desain tersebut dibuat untuk apa.
Apakah Anda membuat:
- poster konser,
- laporan perusahaan,
- website,
- logo,
- kemasan,
- undangan,
- konten Instagram?
Kebutuhan masing-masing berbeda.
Font ekspresif yang cocok untuk poster musik belum tentu cocok untuk laporan keuangan.
Mulailah dari fungsi.
2. Pahami Audiens
Siapa yang akan membaca desain?
Desain untuk anak-anak dapat mempunyai karakter berbeda dengan desain untuk perusahaan B2B.
Begitu juga desain untuk luxury brand dibanding bisnis teknologi.
Jangan memilih font hanya berdasarkan selera pribadi.
Pertimbangkan siapa yang akan berinteraksi dengan desain tersebut.
3. Sesuaikan dengan Karakter Brand
Jika desain dibuat untuk brand, pelajari kepribadian brand terlebih dahulu.
Apakah brand ingin terlihat:
profesional?
ramah?
premium?
modern?
berani?
tradisional?
Setelah itu, cari typeface yang mendukung karakter tersebut.
Namun hindari generalisasi terlalu sederhana seperti:
“serif pasti mewah”
atau
“sans serif pasti modern”.
Karakter typeface ditentukan oleh keseluruhan bentuknya, bukan hanya kategorinya.
4. Utamakan Keterbacaan
Font yang indah tetapi tidak terbaca dapat menjadi pilihan buruk untuk teks informatif.
Terutama untuk body text.
Uji font pada kalimat nyata.
Jangan hanya melihat:
Aa Bb Cc
atau nama font pada daftar software.
Coba masukkan satu atau dua paragraf.
Lihat apakah nyaman dibaca.
5. Periksa Kelengkapan Weight
Typeface dengan beberapa pilihan weight memberikan fleksibilitas lebih besar.
Misalnya:
- Regular,
- Medium,
- Semibold,
- Bold.
Anda dapat menggunakan satu keluarga font untuk membangun beberapa tingkat hierarchy.
Contohnya:
Bold untuk headline
Semibold untuk subheading
Regular untuk body
Hasilnya dapat terasa konsisten tanpa membutuhkan banyak typeface.
6. Periksa Karakter yang Dibutuhkan
Pastikan font mempunyai karakter yang dibutuhkan proyek.
Terutama jika desain menggunakan:
- angka,
- simbol,
- tanda baca,
- bahasa tertentu,
- karakter khusus.
Jangan baru mengetahui ada karakter yang tidak tersedia ketika proyek hampir selesai.'
Cara Membuat Hierarki Tipografi
Typographic hierarchy membantu audiens mengetahui urutan membaca.
Bayangkan halaman tanpa hierarchy.
Semua teks menggunakan:
ukuran 18 px,
Regular,
warna hitam,
spacing sama.
Pembaca harus mencari sendiri mana judul dan mana isi.
Sekarang bandingkan dengan:
H1 — 48 px Bold
H2 — 32 px Semibold
Body — 18 px Regular
Caption — 14 px Regular
Informasi menjadi jauh lebih mudah dipindai.
Anda dapat membangun hierarchy melalui:
- size,
- weight,
- warna,
- spacing,
- posisi,
- kapitalisasi.
Tidak perlu menggunakan semuanya sekaligus.
Sering kali perubahan ukuran dan weight sudah cukup.
Berapa Banyak Font Sebaiknya Digunakan?
Tidak ada angka mutlak.
Namun untuk pemula, satu atau dua keluarga font sering kali sudah cukup.
Menggunakan terlalu banyak font dapat membuat desain kehilangan konsistensi.
Misalnya:
font A untuk headline,
font B untuk subheading,
font C untuk paragraf,
font D untuk tombol,
font E untuk caption.
Jika tidak mempunyai sistem yang jelas, hasilnya dapat terasa seperti lima desain berbeda yang ditempel menjadi satu.
Cobalah mulai dengan satu keluarga font yang memiliki banyak weight.
Jika membutuhkan kontras lebih kuat, tambahkan satu typeface lain.
Cara Mengombinasikan Dua Font
Font pairing adalah proses memasangkan dua typeface agar bekerja bersama.
Salah satu pendekatan sederhana adalah mencari kontras sekaligus keselarasan.
Misalnya:
serif untuk headline + sans serif untuk body.
Atau:
display font untuk headline + sans serif sederhana untuk isi.
Namun kombinasi serif dan sans serif bukan aturan wajib.
Dua sans serif pun dapat bekerja jika mempunyai peran yang jelas.
Hindari Font yang Terlalu Mirip
Dua typeface yang hampir sama tetapi sedikit berbeda dapat terlihat seperti kesalahan.
Jika ingin menggunakan dua font, pastikan ada alasan yang cukup jelas.
Misalnya satu memberikan karakter pada headline, sementara satu lagi mengutamakan readability untuk body.
Tetapkan Peran
Setelah memilih pasangan font, tentukan fungsinya.
Contoh:
Typeface A: headline dan subheading.
Typeface B: body, caption, dan button.
Jangan menukar perannya secara acak pada setiap halaman.
Konsistensi membuat sistem desain lebih mudah dipahami.
Perhatikan Ukuran Font
Ukuran mempunyai hubungan langsung dengan hierarchy dan readability.
Judul biasanya lebih besar daripada isi.
Namun “lebih besar” bukan berarti harus ekstrem.
Gunakan perbedaan ukuran yang cukup untuk menunjukkan hierarchy.
Pada desain digital, ukuran juga perlu diuji di berbagai ukuran layar.
Headline yang terlihat bagus pada desktop bisa terlalu besar pada smartphone.
Karena itu, jangan hanya mendesain untuk satu ukuran artboard.
Apa Itu Leading atau Line Height?
Leading adalah jarak vertikal antara baris teks.
Dalam desain digital, Anda lebih sering menemukan istilah line height.
Line height terlalu kecil membuat baris terlihat bertumpuk.
Line height terlalu besar membuat paragraf kehilangan kesatuan.
Untuk body text, berikan ruang yang cukup agar mata dapat berpindah dari satu baris ke baris berikutnya dengan nyaman.
Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua font.
Perhatikan ukuran, x-height, dan karakter typeface.
Uji secara visual menggunakan paragraf nyata.
Apa Itu Tracking dan Kerning?
Keduanya berkaitan dengan jarak huruf.
Tracking
Tracking mengatur jarak secara keseluruhan pada kelompok huruf atau teks.
Misalnya seluruh huruf pada headline dibuat sedikit lebih renggang.
Kerning
Kerning mengatur jarak antara pasangan karakter tertentu.
Beberapa kombinasi huruf dapat terlihat terlalu jauh atau dekat meskipun secara matematis mempunyai spacing yang sama.
Kerning membantu memperbaiki hubungan visual tersebut.
Untuk body text, biasanya Anda tidak perlu melakukan kerning satu per satu.
Namun pada logo atau headline besar, detail seperti ini dapat terlihat lebih jelas.
Alignment dalam Tipografi
Alignment juga memengaruhi pengalaman membaca.
Beberapa alignment umum:
- left aligned,
- centered,
- right aligned,
- justified.
Untuk paragraf panjang, left aligned sering mudah digunakan karena mata mempunyai titik awal yang konsisten.
Centered text dapat bekerja untuk:
- headline,
- kutipan pendek,
- invitation,
- hero section tertentu.
Namun paragraf panjang yang semuanya centered dapat lebih melelahkan karena titik awal setiap baris berubah.
Pilih alignment berdasarkan fungsi, bukan hanya estetika.
Gunakan Kontras yang Cukup
Tipografi tidak hanya berkaitan dengan bentuk huruf.
Warna teks dan background juga menentukan readability.
Teks abu-abu sangat muda pada background putih mungkin terlihat minimalis.
Tetapi jika sulit dibaca, desain tersebut mempunyai masalah fungsi.
Pastikan teks penting mempunyai contrast yang memadai.
Hal ini menjadi semakin penting untuk desain digital yang akan dibaca melalui berbagai perangkat dan kondisi pencahayaan.
Kesalahan Tipografi yang Sering Dilakukan Pemula
Ada beberapa kesalahan yang cukup umum.
Menggunakan Terlalu Banyak Font
Lebih banyak font tidak otomatis membuat desain lebih kreatif.
Mulai sederhana.
Memilih Font Hanya Karena Sedang Tren
Tren dapat menjadi inspirasi, tetapi tetap periksa kesesuaiannya dengan fungsi dan brand.
Semua Teks Dibuat Bold
Jika semuanya bold, tidak ada lagi yang terasa penting.
Gunakan weight untuk membangun hierarchy.
Body Text Terlalu Kecil
Jangan mengorbankan kenyamanan membaca demi memasukkan lebih banyak teks.
Line Height Terlalu Rapat
Paragraf akan terasa padat dan melelahkan.
Terlalu Banyak Huruf Kapital
Teks kapital dapat berguna untuk label atau headline pendek, tetapi penggunaan berlebihan dapat mengurangi kenyamanan membaca.
Center Alignment untuk Paragraf Panjang
Centered text dapat terlihat elegan dalam jumlah sedikit, tetapi kurang nyaman untuk bacaan panjang.
Tidak Konsisten
Headline halaman pertama menggunakan font A, halaman kedua font B, lalu halaman ketiga font C tanpa alasan.
Buat sistem.
Tipografi untuk Desain Media Sosial
Pada media sosial, pengguna sering melihat konten dengan cepat melalui layar kecil.
Karena itu, hierarchy perlu terlihat jelas.
Anda dapat menggunakan struktur sederhana:
Headline utama
↓
Supporting text
↓
CTA atau informasi tambahan
Jangan memasukkan terlalu banyak teks dalam satu visual jika tidak diperlukan.
Jika informasinya panjang, pertimbangkan format carousel sehingga setiap slide mempunyai fokus.
Tipografi untuk Website
Pada website, tipografi mempunyai peran besar karena banyak informasi disampaikan melalui teks.
Sebuah sistem tipografi website dapat mencakup:
- H1,
- H2,
- H3,
- body,
- small text,
- label,
- button.
Pastikan sistem tetap konsisten antarhalaman.
Perhatikan pula responsive design.
Ukuran font, panjang baris, spacing, dan hierarchy perlu tetap nyaman ketika website dibuka melalui smartphone.
Tipografi yang baik bukan hanya terlihat bagus pada screenshot desain.
Tipografi harus tetap bekerja ketika digunakan oleh orang sungguhan.
Tipografi untuk Branding
Tipografi juga dapat menjadi bagian kuat dari identitas brand.
Beberapa brand bahkan dapat dikenali dari cara mereka menggunakan huruf.
Dalam branding, pikirkan:
- typeface utama,
- typeface pendukung,
- weight,
- capitalization,
- spacing,
- penggunaan headline,
- penggunaan body text.
Kemudian dokumentasikan aturan tersebut dalam brand guideline.
Dengan demikian, desainer lain dapat mempertahankan konsistensi ketika membuat materi baru.
Cara Latihan Tipografi untuk Pemula
Belajar tipografi membutuhkan latihan mata.
Salah satu latihan terbaik adalah mendesain ulang informasi yang sama dengan beberapa sistem tipografi berbeda.
Misalnya gunakan teks:
Workshop Desain Grafis
Sabtu, 20 September
10.00–15.00 WIB
Jakarta
Daftar Sekarang
Buat versi pertama menggunakan satu font.
Kemudian buat versi kedua dengan kombinasi dua font.
Ubah hierarchy.
Ubah spacing.
Ubah alignment.
Bandingkan hasilnya.
Anda akan mulai melihat bahwa konten yang sama dapat mempunyai karakter dan tingkat keterbacaan berbeda hanya karena keputusan tipografi.
Jangan Hanya Bertanya “Font Apa yang Bagus?”
Ini merupakan pertanyaan yang sangat umum.
Namun pertanyaan yang lebih berguna adalah:
Font apa yang sesuai dengan tujuan desain ini?
Tidak ada satu font terbaik untuk semua proyek.
Font yang cocok untuk festival musik belum tentu cocok untuk aplikasi bank.
Font yang cocok untuk luxury packaging belum tentu ideal untuk dashboard.
Font yang cocok sebagai headline belum tentu nyaman untuk artikel panjang.
Karena itu, evaluasi font berdasarkan konteks.
Checklist Memilih Font untuk Desainer Pemula
Sebelum memutuskan menggunakan sebuah font, periksa hal berikut:
- Apa tujuan desain?
- Siapa audiensnya?
- Karakter seperti apa yang ingin ditampilkan?
- Apakah font mudah dibaca?
- Apakah cocok dengan media yang digunakan?
- Apakah tersedia weight yang dibutuhkan?
- Apakah karakter dan simbolnya cukup lengkap?
- Apakah lisensinya sesuai dengan penggunaan?
- Apakah font bekerja pada ukuran kecil?
- Apakah tetap terlihat baik pada ukuran besar?
- Apakah dapat dipasangkan dengan font lain?
- Apakah hierarchy mudah dibuat?
- Apakah contrast dengan background cukup?
- Apakah konsisten dengan identitas brand?
- Apakah penggunaannya membantu komunikasi?
Checklist tersebut membantu Anda memilih berdasarkan fungsi, bukan hanya selera.
FAQ tentang Tipografi dalam Desain Grafis
Apa yang dimaksud dengan tipografi dalam desain grafis?
Tipografi adalah seni dan teknik memilih serta mengatur huruf agar informasi dapat dibaca dengan jelas sekaligus mendukung karakter visual sebuah desain.
Apa fungsi tipografi?
Tipografi membantu menyampaikan informasi, membangun hierarchy, mengarahkan perhatian, memperkuat karakter visual, dan menjaga konsistensi identitas brand.
Apa perbedaan font dan typeface?
Typeface mengacu pada keluarga desain huruf, sedangkan font secara lebih spesifik dapat merujuk pada variasi tertentu dari typeface tersebut. Dalam penggunaan sehari-hari, kedua istilah sering dipakai secara bergantian.
Berapa banyak font yang sebaiknya digunakan dalam satu desain?
Tidak ada jumlah wajib. Namun untuk pemula, satu atau dua keluarga font sering cukup untuk membuat hierarchy sekaligus mempertahankan konsistensi.
Bagaimana cara memilih font yang tepat?
Mulailah dari tujuan desain, audiens, karakter brand, readability, media yang digunakan, kelengkapan weight dan karakter, serta kebutuhan hierarchy.
Apa font yang bagus untuk desainer pemula?
Daripada mencari satu font yang dianggap paling bagus, pilih typeface yang mudah dibaca, mempunyai beberapa weight, dan sesuai dengan kebutuhan proyek. Tujuannya adalah mempelajari cara mengatur tipografi, bukan mengandalkan karakter unik font.
Apakah font untuk website dan poster harus sama?
Tidak harus. Poster biasanya memungkinkan penggunaan display font yang lebih ekspresif karena teksnya relatif pendek. Website membutuhkan perhatian lebih besar pada readability, terutama untuk body text dan penggunaan di berbagai ukuran layar.
Tipografi dalam desain grafis bukan sekadar memilih font yang terlihat bagus.
Tipografi adalah tentang bagaimana huruf digunakan untuk berkomunikasi.
Pemilihan typeface menentukan karakter.
Ukuran dan weight membantu membangun hierarchy.
Line height dan spacing memengaruhi kenyamanan membaca.
Alignment membentuk struktur.
Contrast memastikan informasi terlihat.
Sementara konsistensi membantu seluruh desain terasa sebagai satu sistem.
Jika Anda seorang desainer pemula, tidak perlu mencoba menghafal ratusan font.
Mulailah dengan beberapa typeface yang sederhana.
Pelajari bagaimana satu keluarga font bekerja menggunakan Regular, Medium, Semibold, dan Bold.
Kemudian coba membuat hierarchy.
Perhatikan spacing.
Uji readability.
Setelah memahami dasar tersebut, barulah bereksperimen dengan font pairing dan typeface yang lebih ekspresif.
Ketika memilih font, jangan berhenti pada pertanyaan:
“Apakah font ini terlihat bagus?”
Tanyakan juga:
“Apakah mudah dibaca?”
“Apakah sesuai dengan pesan?”
“Apakah cocok dengan audiens?”
“Apakah hierarchy-nya jelas?”
“Apakah sesuai dengan karakter brand?”
Jika jawabannya sesuai, kemungkinan Anda sedang bergerak ke arah yang tepat.
Pada akhirnya, tipografi yang baik sering tidak membuat pembaca berhenti dan memikirkan font yang digunakan.
Sebaliknya, tipografi membuat pesan terasa jelas, proses membaca terasa nyaman, dan karakter desain dapat dipahami tanpa mengganggu isi yang ingin disampaikan.


